RENUNGAN HARIAN KAMIS 11 JANUARI

 * * * POSTS TERBARU * * *,   RENUNGAN HARIAN  

Bacaan Liturgi Kamis, 11 Januari 2018|Hari Biasa, Pekan Biasa I

Bacaan Pertama: 1Sam 4:1-11

Orang-orang Israel terpukul kalah, dan tabut Allah dirampas.

Sekali peristiwa, orang Israel maju berperang melawan orang Filistin. Orang Israel berkemah dekat Eben Haezer,sedang orang Filistin berkemah di Afek. Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat,
terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu.

Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel, “Mengapa Tuhan membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil tabut perjanjian Tuhan dari Silo,supaya Ia datang ke tengah-tengah kita
dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.”

Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, Mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian Tuhan semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub.Kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu. Segera sesudah tabut perjanjian Tuhan sampai ke perkemahan,bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar. Mendengar bunyi sorak itu orang Filistin berkata,
“Apakah arti sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?”Ketika mereka tahu
bahwa tabut Tuhan telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin.
Kata mereka: “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu. Celakalah kita, sebab hal seperti itu belum pernah terjadi. Celakalah kita!Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Allah ini jugalah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai tulah di padang gurun. Akan tetapi, hari orang Filistin, Kuatkanlah hatimu,dan berlakulah seperti laki-laki, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu,seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!”

Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri, masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan infantri. Lagipula tabut Allah dirampas
dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.

Mazmur 44:10-11.14-15.24-25

Ref: Bebaskanlah kami, ya Tuhan,demi kasih setia-Mu!

  • Ya Allah, Engkau kini membuang kami dan membiarkan kami kena umpat.

    Engkau tidak maju bersama dengan bala tentara kami. Engkau membuat kami mundur dipukul lawan,dan dirampok oleh orang-orang yang membenci kami.

  • Engkau membuat kami menjadi celaan tetangga, menjadi olok-olok dan cemoohan bagi orang-orang sekitar. Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa,

    suku-suku bangsa merasa geli melihat kami.

  • Bangunlah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangkitlah! Janganlah membuang kami terus-menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu? Mengapa tak Kauhiraukan penindasan dan impitan yang menimpa kami?

Bait Pengantar Injil:Mat 4:23

Yesus mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit.

Bacaan Injil: Mrk 1:40-45

Orang Kusta lenyap penyakitnya dan menjadi tahir.

Sekali peristiwa, seorang sakit kusta datang kepada Yesus. Sambil berlutut di hadapan Yesus,ia memohon bantuan-Nya, katanya,”Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu,dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.
Segera Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras,kata-Nya, “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu
persembahan yang diperintahkan oleh Musa,sebagai bukti bagi mereka.”
Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana
sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota.Yesus tinggal di luar kota di tempat-tempat yang sepi;namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan:

Mengapa Tuhan membuat Israel kalah?

Itulah pertanyaan yang muncul ketika Israel dikalahkan Filistin. Pertanyaan yang tepat sekali bila membuat mereka introspeksi, merendahkan diri di hadapan Allah dan bertobat. Kesimpulan mereka sebenarnya sudah benar. Mereka kalah sebab Tuhan tidak menyertai. Namun jalan keluar yang diambil salah besar. Mereka berpikir tabut sebagai lambang kehadiran Tuhan sama dengan kehadiran Tuhan sendiri. Perbuatan mereka selanjutnya lebih parah lagi; menjadikan tabut semacam jimat. Tentu saja mereka kalah untuk kedua kalinya. Banyak korban berjatuhan terutama anak-anak Eli yang jahat dan Eli sendiri.

Tuhan bukan pelayan. Akar segala dosa adalah sikap tinggi hati dan tidak mau meninggikan Allah yang selayaknya Allah terima. Lawan dari meninggikan Allah adalah menjadikan diri sendiri sebagai tuhan dan raja atas hidupnya. Tuhan sendiri dijadikan pelayan. Orang yang bersikap demikian akan memakai berbagai alat rohani dan ritus rohani untuk kepentingan diri sendiri. Allah tidak akan pernah membiarkan kemuliaan-Nya direndahkan seperti itu.

Semua media anugerah-Nya seperti sakramen, ibadah, Kitab Suci, dan lain sebagainya. tak bermanfaat apa pun bila kita tidak menerimanya dengan hati yang lurus di hadapan Allah.

Mazmur, Iman yang bertumbuh melampaui batas pemahaman dan pengalaman.

Realita kehidupan orang percaya tidaklah selalu dapat dimengerti dengan sederhana dan mudah. Adakalanya kita menemui hal-hal yang nampaknya saling bertentangan dan sulit dipahami, dimana harapan-harapan dan kebenaran-kebenaran yang kita yakini seakan-akan tidak mampu memberikan jawaban yang memadai. Konteks pergumulan seperti inilah yang mewarnai penulisan Mazmur 44.

Pada mazmur ini, umat Tuhan bergumul menghadapi krisis iman dan tekanan batin yang berat. Ketika mereka mencoba menemukan jawaban, makna, dan rencana Tuhan di balik kesengsaraan yang mereka alami. Sulit bagi mereka untuk memahami mengapa Allah justru “meremukkan mereka di tempat serigala” dan “menyelimuti mereka dengan kekelaman” pada saat mereka tidak melupakan ataupun mengkhianati perjanjian Tuhan, dan juga tidak membangkang ataupun menyimpang dari jalan-Nya (ayat 18-20). Mereka tidak dapat mengerti: mengapa pertolongan Allah tidak mereka alami secara nyata? Mengapa Allah seolah-olah tertidur, membuang mereka, menyembunyikan wajah-Nya, dan melupakan penindasan yang menimpa mereka (ayat 23-25), padahal Dia secara nyata melakukan perbuatan- perbuatan ajaib dan memberikan kemenangan kepada nenek moyang mereka pada zaman dahulu?

Di balik keterbatasannya untuk memahami jalan-jalan Allah yang tak terselami, pemazmur mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari keraguan yang jujur kepada Allah. Pertanyaan seperti ini bukanlah suatu indikasi adanya dosa melainkan bagian yang wajar dari pertumbuhan iman, yang menuntun pada penghayatan akan kasih setia Tuhan yang tetap berlaku walaupun tidak dapat dirasakan secara nyata. Melalui pertanyaan seperti ini, iman mereka dipacu untuk terus bertumbuh melampaui batas-batas pemahaman dan pengalaman mereka, sehingga mereka dapat memiliki pengharapan dan keberanian untuk berdoa, walaupun tidak dapat mengerti mengapa Allah mengizinkan umat-Nya yang setia mengalami penderitaan.

Ketika kita menghadapi situasi yang tidak dapat kita mengerti, ingatlah bahwa sebenarnya itulah saatnya bagi kita untuk memperdalam akar iman kita yang terus bertumbuh melampaui pemahaman dan pengalaman kita.

Injil hari ini, Menentang tradisi.

Pada masa Yesus hidup, sudah merupakan tradisi bila orang yang berpenyakit kusta diasingkan masyarakat. Selain takut tertular – – menurut hukum Musa — orang kusta itu najis dan dikutuk Allah (bdk. Im. 13:45-46). Bagaimana sikap Yesus ketika berhadapan dengan orang kusta? Yesus tidak mengusir atau menjauh. Yesus justru menggerakkan tangan-Nya ke arah orang kusta itu lalu menyentuhnya. Dapat kita bayangkan kegemparan yang terjadi karena reaksi orang-orang yang melihat perbuatan ini. Mengapa Yesus mau menyentuhnya? Karena belas kasihan (ayat 41). Belas kasihan Yesus menyembuhkan dan mengalahkan segala-galanya.

Ketika orang kusta sembuh Yesus memberikan dua bentuk perintah padanya. Pertama, ia harus melakukan hukum Musa, yaitu menghadap imam agar imam dapat menyatakannya sebagai orang sehat. Tanpa pernyataan resmi ini sulit baginya diterima masyarakat. Kemudian, ia harus memberikan persembahan syukur seperti yang diatur hukum Musa (Im. 14:1-32). Kedua, Yesus melarangnya untuk memberitakan kesembuhannya kepada orang lain. Sebenarnya orang yang mengenalnya, tanpa diberitahu pun menyadari perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Selain itu melakukan ritus seperti yang dituntut hukum Musa, sebenarnya merupakan pernyataan terbuka bahwa ia telah sembuh dan tahir. Jadi, mengapa harus dilarang? Karena Yesus tidak ingin dikenal sebagai tabib penyembuh. Yesus adalah Mesias dan Anak Allah. Namun, orang kusta ini tidak taat. Akibatnya pekerjaan dan pelayanan Yesus menjadi terhalang. Ketidaktaatan selalu menghambat pelayanan Yesus. (ayat 45).

Renungkan: Belas kasihan Yesus membawa orang-orang pinggiran ke tengah- tengah peradaban manusia. Tanpa memiliki belas kasihan Yesus kita tidak akan pernah menyentuh orang-orang yang masuk dalam kelompok KLMTD (Kekurangan, Lemah, Miskin, Terpinggirkam /terbuang dan terasing oleh masyarakat dan Difabel).

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah aku murid-Mu yang baik. Buatlah aku menjadi seorang pribadi yang senantiasa mendengarkan perintah-perintah-Mu dan melakukan semuanya itu seturut kehendak-Mu. Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi, ya Tuhan. Amin. (Lucas Margono)

 Mrk 1:40-45  “Orang kusta lenyap penyakitnya dan menjadi tahir.”  Sekali peristiwa, 1:40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” 1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” 1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. 1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: 1:44 “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” 1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.Mrk 1:40-45 “Orang kusta lenyap penyakitnya dan menjadi tahir.”

Bacaan dan Renungan Rabu 10 Januari 2018

Bacaan Liturgi Rabu,10 Januari 2018|Hari Biasa, Pekan Biasa I

Bacaan Pertama: 1Sam 3:1-10.19-20

Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Samuel yang masih muda menjadi pelayan Tuhan di bawah pengawasan Eli.
Pada masa itu Tuhan jarang menyampaikan sabda-Nya;penglihatan-penglihatan pun tidak sering terjadi.

Pada suatu hari,Eli, yang matanya mulai kaburdan tidak dapat melihat dengan baik,
sedang berbaring di tempat tidurnya. Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci Tuhan,tempat tabut Allah. Lalu Tuhan memanggil: “Samuel! Samuel!”Samuel menjawab: “Ya, bapa.” Lalu berlarilah ia kepada Eli, dan berkata,”Ya, Bapa, bukankah Bapa memanggil aku?”Tetapi Eli berkata, “Aku tidak memanggil; tidurlah kembali.”Samuel pergi dan tidur lagi. Dan Tuhan memanggil Samuel sekali lagi.Samuel pun bangun, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata,
“Ya, Bapa, bukankah Bapa memanggil aku?” Tetapi Eli berkata,”Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali.”Waktu itu Samuel belum mengenal Tuhan;sabda Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya.Dan Tuhan memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Ia pun bangun, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata,”Ya, Bapa, bukankah Bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggil anak itu. Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel,”Pergilah tidur, dan apabila engkau dipanggil lagi, katakanlah: Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.”
Maka pergilah Samuel, dan tidurlah ia di tempat tidurnya. Lalu datanglah Tuhan, berdiri di sana,dan memanggil seperti yang sudah-sudah,”Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab, “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.”

Samuel semakin bertambah besar, dan Tuhan menyertai dia. Tidak ada satu pun dari sabda Tuhan itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel, dari Dan sampai Bersyeba,bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan.

Mazmur 40:2.5.7-8a.8b-9.10

Ref: Ya Tuhan, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.
  • Aku sangat menanti-nantikan Tuhan;lalu Ia menjengukku dan mendengar teriakku minta tolong.Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan
    yang tidak berpihak kepada orang-orang yang angkuh,atau berpaling kepada orang-orang yang menganut kebohongan!
  • Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan,tetapi Engkau telah membuka telingaku;
    kurban bakaran dan kurban silih tidak Engkau tuntut.Lalu aku berkata, “Lihatlah Tuhan, aku datang!
  • Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku:Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku;Taurat-Mu ada di dalam dadaku.”
  • Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar,bibirku tidak kutahan terkatup;Engkau tahu itu, ya Tuhan.

Bait Pengantar Injil: Yoh 10:27

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.

Bacaan Injil: Mrk 1:29-39

Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit.

Sekeluarnya dari rumah ibadat di Kapernaum,Yesus dengan Yakobus dan Yohanes
pergi ke rumah Simon dan Andreas.Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam.
Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Yesus pergi ke tempat perempuan itu,dan sambil memegang tangannya Yesus membangunkan dia,
lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.Menjelang malam, sesudah matahari terbenam,dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan;Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara,sebab mereka mengenal Dia.

Keesokan harinya, waktu hari masih gelap,Yesus bangun dan pergi ke luar.
Ia pergi ke tempat yang sunyi, dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Yesus. Waktu menemukan Yesus, mereka berkata:”Semua orang mencari Engkau.”Jawab Yesus, “Marilah pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan,
supaya di sana juga Aku memberitakan Injil,karena untuk itu Aku telah datang.”
Lalu pergilah Yesus ke seluruh Galilea,dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan:

Kualifikasi hamba Allah

Hamba Allah bukanlah sembarang orang. Ia adalah seorang yang dipakai Tuhan sebagai alat-Nya untuk menyampaikan atau mewujudkan rencana Allah dalam kehidupan umat-Nya. Oleh sebab itu ada kualifikasi tertentu yang ada pada setiap hamba Tuhan sejati. Seorang menjadi hamba Tuhan bukan karena bakat. Tugas hamba Tuhan meskipun masa kini dapat dipelajari di Seminari, Sekolah Teologi dan lain sebagainya, tidak hanya terkait dengan pengetahuan dan keterampilan. Tugas hamba Tuhan hanya dapat dilakukan dengan benar bila orang tersebut diurapi, disertai, dipenuhi oleh kehadiran Tuhan dalam kuasa dan kebenaran-Nya. Dari zaman ke zaman Allah menyiapkan para hamba Tuhan berkualifikasi.

Penyiapan hamba Tuhan. Paling tidak ada dua kualifikasi hamba Tuhan yang sedang diproses Tuhan dalam hidup Samuel. Pertama, panggilan. Tuhan yang memilih, memanggil, menyiapkan seseorang menjadi hamba-Nya. Tanpa panggilan, orang hanya akan menjadi seorang hamba Tuhan yang mengandalkan cita-cita, ambisi, dan kemampuannya sendiri. Dalam terang Kitab Suci, orang yang demikian disebut hamba Tuhan palsu. Kedua, hamba Tuhan harus memiliki sikap hati yang taat. Sebagai pelayan Tuhan, haruslah seseorang belajar untuk menundukkan segala hal di bawah kehendak Allah. Kedua hal inilah yang tengah dibentuk Tuhan dalam diri Samuel ketika Ia memanggilnya. Tiga kali Samuel dibangunkan dari tidur di tengah malam. Tiga kali ia terjaga, bertanya kepada imam Eli karena menyangka Eli yang memanggilnya (ayat 5-9). Adegan ini memperlihatkan Allah tengah membentuk disiplin, kepekaan akan suara Tuhan dalam hati Samuel.

Panggilan, sikap responsif, disiplin, kepekaan akan suara dan pimpinan Tuhan tidak terjadi sekejap mata. Allah perlu memanggil dan melatih hamba-Nya berulang kali agar kualitas itu terbentuk dalam diri hamba-Nya.

Mazmur, Pasti Tuhan menolong.

Dari mana ucapan syukur mengalir? Tentu dari hati yang telah merasakan pertolongan Tuhan. Bagaimana mengungkapkan rasa syukur yang benar? Kita belajar dari pemazmur, yaitu dengan tidak sekadar menaikkan kata-kata syukur dan pujian, atau dengan mempersembahkan kurban-kurban bakaran, melainkan dengan menundukkan diri dalam ketaatan kepada firman (ayat Rm. 12:1). Rasa syukur pemazmur juga dinyatakan kepada Tuhan dengan menyaksikan perbuatan Tuhan kepada umat Tuhan (ayat 10-11). Tujuannya jelas, agar umat Tuhan dikuatkan dan ikut mensyukuri kasih setia-Nya. Itulah gambaran dari bagian pertama mazmur ini (ayat 2-11).

Dari pengalaman pernah ditolong Tuhan, pemazmur beroleh keyakinan bahwa Tuhan bisa diandalkan. Oleh karena itu, pada bagian kedua mazmur ini (ayat 12-18), permohonan diungkapkan. Pemazmur sedang mengalami masalah: para musuhnya menginginkan kematiannya. Mereka mengepung dan mengeroyok dia (ayat 13). Pemazmur merasa tertekan, tetapi pada saat yang sama ia percaya bahwa Tuhan peduli. Maka pemazmur memohon agar Tuhan jangan berlambat, tetapi segera menolong dirinya (ayat 18). Ia ingin agar para musuh melihat pertolongan Tuhan atas dirinya, sehingga mereka mundur teratur (ayat 15-16).

Bagaimana pengalaman Anda ditolong Tuhan pada masa lampau? Sudahkah Anda mensyukurinya? Masih berpengaruhkah pengalaman itu dalam situasi yang sedang menekan Anda? Percayalah bahwa sesuai janji firman-Nya, Tuhan Yesus Kristus tidak pernah berubah, dulu, sekarang, dan sampai selamanya. Andalkan Dia terus untuk menolong kita. Naikkan syukur tak henti-hentinya disertai tekad tulus dan bersungguh-sungguh untuk taat pada firman-Nya dan menyaksikan segala kebaikan-Nya.

Injil hari ini, Pelayanan dan doa.

Dalam pelayanan-Nya, Yesus tidak hanya mengajar banyak orang. Yesus juga menyembuhkan banyak orang, termasuk ibu mertua Simon, yang menderita sakit demam (ayat 30). Lazimnya orang yang baru sembuh dari sakit, badan terasa lemah, karena itu diperlukan waktu beberapa lama untuk beristirahat dan mengembalikan kondisi tubuh. Tetapi, tampaknya ini tidak berlaku bagi ibu mertua Simon. Segera setelah disembuhkan ia langsung melayani Yesus (ayat 31). Ini memberi indikasi bahwa penyembuhannya segera dan sempurna. Tidak hanya orang sakit, orang-orang yang kerasukan setan pun dibawa kepada Yesus untuk disembuhkan dan dilepaskan dari cengkeraman setan (ayat 32,34). Menarik untuk dicatat bahwa Yesus tidak memperbolehkan setan-setan untuk berbicara meski mereka mengenal Yesus.

Dalam 1:24, setan bahkan menyapa Yesus sebagai ‘Yang Kudus dari Allah’. Tetapi, Yesus membentaknya untuk tidak bicara. Yesus menolak kesaksian setan dan roh-roh jahat, karena kesaksian mereka tidak lahir dari kesadaran dan suka rela. Mereka mengenal siapa Yesus, tetapi mereka tidak mau hidup taat terhadap Yesus. Inilah iman model ala setan (Yak. 2:19): mengenal Yesus bahkan beribadah di rumah ibadat, tetapi tidak mau taat kepada kehendak Yesus; percaya pada Yesus, tetapi hidup menurut kehendak sendiri.

Di tengah kesibukan pelayanan, Yesus berdoa (bdk. 6:46 dan 14:35). Mengapa Yesus harus berdoa? Doa adalah komunikasi dengan Allah. Melalui doa, Yesus menyatakan dua hal. Pertama, relasi-Nya dengan Allah sangat intim. Kedua, Yesus menyatakan ketergantungan-Nya kepada Allah. Rahasia kesuksesan pelayanan-Nya terletak pada ketergantungan-Nya pada Allah, dan doa merupakan ekspresi ketergantungan pada Allah.

Renungkan: Apakah iman pada Yesus memberi warna terhadap perilaku dan moralitas hidup sehari-hari? Apa hambatannya?

DOA: Tuhan Yesus, sentuhlah diriku yang sudah “berantakan” ini. Tolonglah aku agar mau menyerahkan diriku kepada kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin. (Lucas Margono)

1:29 Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. 1:30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. 1:31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. 1:32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. 1:33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. 1:34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. 1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” 1:38 Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” 1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
Mrk 1:29-39
“Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit.”

No Responses

Comments are closed.