PASTOR REKAN: PASTOR LASBERT LIVINUS SINAGA, CICM

 PASTOR PAROKI KRISTUS SALVATOR

Nama saya Lasbert Livinus Sinaga, anak bungsu dari 5 bersaudara, 2 perempuan dan 3 laki laki. Keluarga kami dulunya adalah HKBP, akhirnya setelah anak yang ke tiga lahir bapak masuk Katolik mengikuti ibu saya yang sebelum menikah sudah Katolik.
Sejarah panggilan hidup membiara yang menjadi teka-teki
Dari antara 5 bersaudara saya tidak mengerti kenapa hanya saya saja yang disekolahkan ke pendidikan Katolik. Apakah karna saya yang cukup menonjol prestasinya disekolah? Apakah karena saya anak bungsu?
Nanti sesudah di seminari saya mengerti, bahwa saya dikirim kesana untuk hanya untuk mendapatkan ilmu. Melihat ada beberapa dari tempat saya yang berhasil dalam karir sesudah keluar atau tamat dari seminari. Pada saat itu saya hanya mengikuti saran orang tua, bahwa mereka akan tetap mendukung selagi saya bias mengikuti segala kegiatan di sana. Hidup di seminari menengah selama 4 tahun dalam benak saya tidak ada keinginan memang untuk menjadi imam, saya bertahan karena segala kegiatan sangat padat, menarik dan semua fasilitas sangat menyenangkan khususnya yang berhubungan dengan pengembangan bakat seperti olah raga dan seni. Dalam studi saya tidak mendapat halangan yang cukup berarti, pada tahun pertama, persiapan saya bisa mendapat juara umum dari semua angkatan kelas saya.
Menjelang akhir tahun ke empat, saya menghadapi kebingungan. Banyak teman untuk memilih keluar untuk lanjut kuliah ke perguruan tinggi ada juga yang mau melanjutkan panggilannya untuk jadi imam ke kongregasi atau tarekat lain di Sumatra atau di Jawa. Dalam kebingungan ini, saya memutuskan untuk menjauh dari orang tua saya, agak saya tidak terlalu didikte untuk memilih apa yang harus saya pilih dalam hidup. Dengan resiko yang cukup besar, saya melamar ke CICM di Makassar dengan meminta informasi atau cerita dari P. Derikson Turnip yang sudah bergabung di sana sbg frater waktu itu. Dia katakana bahwa persaudaraan di dalam biara sangat bagus dan kegiatan harian juga sangat bervariasi dan banyak jalan jalannya. Namun kontribusi secara financial masih diharapkan dari keluarga. Waktu itu saya jadi bingung, karena sesudah utarakan niat saya, mereka tidak setuju kalau bisa saya harus melanjutkan ke universitas. Berama teman lain memang saya sudah mencoba ambil tes masuk STAN.
Akhirnya dengan jelas, saya mengatakan kepada orang tua, saya akan mencoba ke CICM dulu selama 1satu atau dua tahun dan nanti bisa lanjut ke universitas. Aku ungkapkan isi hati saya bahwa saya tidak punya niat memang untuk jadi imam.
Singkatnya walau orang tua merasa cuek dan ibu saya sedih, saya akhirnya berangkat dengan biaya bantuan kakak saya. Selama 2 thn di Makassar hanya kakak saya yang secara diam diam membantu saya. Surat lamaran persetujuan orang tua untuk masuk membiara saya tanda tanganin sendiri akhirnya.
Pengalaman dua tahun di Makassar merobah hidup saya. Lama kelamaan saya tertarik melanjutkan hidup membiara karena kesaksian hidup nyata, khususnya hidup persaudaraan sehati sejiwa diantara frater frater di komunitas dan imam-imam CICM yang datang berkunjung ke komunitas dan gaya dan cara hidup mereka di paroki paroki CICM pada waktu itu. Tambahan cerita hidup misi confrater CICM yang bertugas di luar negeri memberi saya inspirasi saya untuk mengalami hal yang sama.
Singkatnya saya melanjutkan studi ke Pilipina dengan suka dan duka, beberapa kali mau mengundurkan diri namun tetap juga bertahan. Salah satu yang menjadi pembentukan dasar misioner saya adalah ke tika TOP selama 2 tahun lebih di Mindanao, Pilipina selatan. Pengalaman yang menggetirkan, hidup di tengah konflik dan peperangan bisa juga menenambahkan dan meneguhkan niat saya untuk maju terus ke jenjang imamat. Dalam krisis iman dan panggilan yang menjadi pertanyaan yang selalu masuk ke benak saya adalah,”apa sebenarnya yang saya cari dari hidup ini dan apakah itu bisa member makna yang mendalam dalm hidup saya?”
Ayat yang saya pakai dalam tahbisan diakonat dan imamat saya yang saya pakai adalah dari Kitab Jeremia 18:1-6, dimana hidup dan panggilanku saya ibaratkan seperti bejana tanah liat di tangan pembuatnya. Mudah rapuh dan retak, namun walau retak masih bisa ditempah lagi sesuai dengan rencana Tuhan, yang penting saya sadar dan mau menyerahkan dan mempersembahkannya.
Saya ditahbiskan pada 11 Mei 2002 di Paroki asal saya di santo Mikael, Pangururan Tobasa. Sesudah itu saya kembali ke Pilipina dengan banyak tantangan yang sangat signifikan. Pecahnya provinsi CICM yang menjadi 2 kongregasi sangat menguras emosi dan tenaga. Permintaan saya untuk ditugaskan di daerah pedalaman Mindanao tidak dikabulkan. Bermasalah dengan pimpinan karena penugasan di paroki baru akhirnya membuat saya untuk pulang ke Indonesia untuk istirahat sejenak dan melakukan disermen lebih lanjut.
Untunglah di pendidikan membutuhkan tenaga, maka dalam masa disermen tersebut saya diminta untuk menjadi formator. Ini menjadi langkah yang membawa angin baru buat saya. Sebelum melanjutkan tugas baru pimpinan umum dari Roma meminta saya untuk study Psikoterapi dan konseling di Kent, Inggris. Sesudah studi saya akhirnya diminta menjadi socius, pendamping Novice Master di novisiat di Makassar dan itu saya jalani selam 5 tahun sekaligus sebagai Rektor program postulant.
Penempatan saya ke paroki Salvator setelah study lanjut konseling di Melbourne, bukanlah suatu kebetulan/incident namun merupakan suatu rencana Tuhan dimana merupakan tempat yang cukup ideal, dimana saya bisa melanjutkan tugas pastoral saya untuk mendampingi para frater yang jumlahnya lebih banyak di Pondok Bambu/Jakarta. Mudah-mudahan kehadiran saya di paroki sebagai pastor rekan akan memberi makna hidup dan mendapat pengalaman baru, baik bagi umat maupun perjalanan hidup saya sebagai imam misioner religious.

No Responses

Comments are closed.